Kota tenggelam di tengah malam, di tengah malam merintih blues yang sepi. Penderitaan macam apa yang dialami actor yang lagi bersinar ini untuk memilih mati? Sepertinya ketenaran tidak cukup untuk membahagiakanya, atau mungkin justru itu yang membebaninya.Coba lihat dia, sementara dia dipuja banyak orang, makan di restoran mewah & berkencan dengan wanita yang hanya bisa menjadi impian lelaki sedunia, sedangkan aku harus berurusan dengan darah, kekerasan, criminal, pelacur & donat setiap hari. Dan apakah aku pernah mengutuk hidupku lalu berpikiran untuk mati? Tidak sama sekali! Kadang kupikir aktor2 film itu hanyalah anak kecil yang cengeng & manja yang tidak bisa mensyukuri hidupnya. Malam ini tepatnya tanggal 22 january 2008 di apartemen lt.4 Soho, Manhattan ini tergeletak actor muda. Dugaan sementara dia overdosis obat depresan yg dia minum. Aneh, wajahnya seperti bahagia. Sepertinya dia senang sekali bisa lepas dari penderitaanya, apapun itu. Oh ya, nama actor ini Heath Ledger.
Sudah 5 tahun aku menjadi detektif di kota ini. Setelah perceraianku dengan Lisa 3 tahun yang lalu, aku semakin memfokuskan hidupku di pekerjaan ini. Senang sekali bisa menghajar penjahat untuk melampiaskan kekesalanku. Atau kalo tidak, Jack Daniels selalu ada untuk menemaniku. Di TKP ini tidak ada tanda2 yg mencurigakan, tidak ada tanda2 perlawanan sama sekali. Sepertinya penyebab kematianya memang kecelakaan karena keracunan komplikasi obat2an yg dia minum. Kecuali satu hal yg menggangguku, sebuah kartu Joker yg tergeletak tak jauh dari tubuhnya. Ya aku tahu dia barusan memerankan The Joker di sequel Batman terbaru, The Dark Knight. Tapi membawa-bawa kartu ini sampai akhir hayatnya bukanlah kejadian yg normal. Mungkin dugaanku berlebihan, tapi kubawa saja untuk diperiksa di lab.
The Joker…mengingatkanku pada masa kecilku. Ketika teman2ku kecanduan komik2 amerika itu, ada yg ingin menjadi Superman, Batman, Spiderman. Atau ingin menjadi rockstar & bintang film karena kebanyakan nonton MTV. Sampai ada salah satu temanku yg bertanya:
"Steve, kamu kalo gede ntar mau menjadi apa?"
"Aku mau menjadi detective."
"Kenapa kamu mau jadi detective?"
"Aku lebih suka mengejar daipada dikejar."
Mungkin itulah perbedaan paling mendasar antara detective/polisi dengan rockstar/actor. Aku menemukan kesenangan tersendiri dari memecahkan kasus dan mengejar penjahat. Perasaan berkuasa dan mendapat kekuatan penuh yang memenuhi ego ku. Dan aku juga nggak harus memakai kostum konyol seperti superhero2 itu. Tapi mungkin juga, aku hanyalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik pistol dan lencana. Tiba2 ada kabar dari laboratorium, bahwa di kartu Joker yg kutemukan tadi tidak terdeteksi adanya sidik jari sedikitpun. Aneh sekali, jika Ledger yg memilikinya, mengapa dia menyembunyikan sidik jarinya sendiri? Atau jangan2 ada orang lain yg sengaja menaruhnya disana? Tapi apa motifnya & siapa orang itu? Aku tahu kartu Joker adalah semacam Jimat bagi karakter The Joker didalam komik Batman. Dia selalu meninggalkanya di tempat dia melakukan kejahatan sebagai tanda bahwa dialah yg melakukanya. Mungkin ada orang yg mau membikin lelucon disini. Siapapun itu, leluconya sungguh tidak lucu! Aku berusaha mengintrogasi orang2 terdekatnya untuk mencari tahu apakah ada kejadian2 yg tidak lazim semasa syuting film pada diri Ledger. Pertama adalah sutradara film The Dark Knight yg barusan dibintanginya, Christoper Nolan. Mr.Nolan mengatakan tidak ada kejadian2 aneh atau sabotase semasa syuting berlangsung. Tapi dia melihat Ledger tampak begitu tertekan semasa syuting itu. Tapi dia menganggap itu hal yg wajar mengingat Ledger berusaha mendalami tokoh The Joker yg psycho sebaik mungkin. Mungkin dia malah jadi gila beneran. Lalu aku menanyai actor utamanya, Christian Bale. Dia mengatakan bahwa Ledger tampak begitu cemas akhir2 ini. Dia bercerita betapa Ledger tampak begitu tertekan akibat perpisahaanya dengan Wiliams (mantan istrinya) dan anaknya, Matilda Rose. Dia bercerita betapa dia sangat kehilangan mereka. Sampai sejauh ini aku tidak menemukan tanda2 orang ingin mencelakainya. Semuanya tampak mengacu bahwa kematian Ledger murni kecelakaan bahkan mungkin bunuh diri. Aku juga berpisah dengan Lisa, tapi aku tidak seputus asa itu. Huh..aktor film memang cengeng!
Lalu aku berusaha mencari tahu darimana asal kartu Joker tersebut. Ternyata ini adalah kartu jenis langka yang sudah tidak diproduksi lagi. Pabriknya sudah lama tutup dan satu2nya toko yg menjualnya ada di Manhattan ini bernama"Rabit Star", sebuah toko penyedia alat2 sulap. Aku menuju kesana untuk mencari tahu siapa pembelinya. Aku bertemu Mr.Aleen pemilik toko tersebut. Dia mengenal kartu yg aku bawa dan memang hanya dijual di tokonya. Dan dia mengatakan hanya ada satu orang pelangganya yg selalu membeli kartu macam ini dan dia cukup mengenal orang tersebut karena sering ngobrol dengannya. Orang itu mengaku bernama Jack dan dia bekerja di produksi film Batman terbaru sebagai crew.
Satu titik terang mulai muncul. Aku kembali ke studio film menemui Mr.Nolan dan menanyai apakah ada salah satu crew filmnya yg bernama Jack? Dia ingat orang itu, Jack orang yg sangat ceria, senang bercanda baik dengan sesame crew maupun actor2 lainya. Semua orang menyukainya. Nama lengkapnya Jack Pierrot. Tapi tidak ada yg tau dimana keberadaanya sekarang. Masa kontraknya sudah habis setelah selesai syuting & hpnya tidak bisa dihubung. Semacam menemukan jalan buntu disini, aku nggak mau berperasangka negative dulu. Tapi aku ingin tahu mengapa kartunya ada di dekat tubuh Ledger. Setelah aku perhatikan kartu itu, ternyata ada yg luput dari pengamatanku selama ini. Diterawang cahaya lampu, ternyata ada tulisan yg muncul pada kartu itu. Tertulis "di ujung pelangi, kau akan menemukan pundi2 berisi uang emas." Apakah ini petunjuk? Aku memeriksa kartu2 lain yg sama tapi tidak menemukan tulisan seperti itu. Pelangi…apakah itu menunjukan suatu tempat? Setelah aku periksa, ternyata hanya ada satu tempat yg berhubungan dengan kata pelangi. Yaitu Rainbow Hotel.
Rainbow Hotel adalah hotel tua bobrok yg berada di sudut pinggiran kota Manhattan. Daerah yg ditinggali gelandangan, mucikari, bajingan dan apa sajalah yg terbuang dari kehidupan ini. Hmm…aku baru menyadari betapa tuanya kota ini. Di balik gemerlapnya cahaya di malam hari, tersembunyi jiwa2 yg mati. Mengejar sesuatu yg nihil, seperti godote. Itulah sebabnya aku menyukai kota ini. Tiba di loby hotel, aku menanyai resepsionis apakah ada seseorang yg bernama Jack Pierrot disini. Dia menyebut kamar nomor 382. Aku menelusuri lorong, aroma parfum murahan bercampur dengan bau muntahan orang mabuk disini. Ya…masih lebih baik daripada di mal tengah kota. Aku tiba didepan pintu no.382. Ternyata tidak dikunci. Aku masuk kedalam, gelas & botol berserakan di lantai. Gambar2 tokoh The Joker tertempel memenuhi salah satu sisi dinding. Dan tepat di tengah ruangan duduk seseorang seolah menungguku. Apakah dia yg maksub "pundi2 berisi uang emas" itu? Dia tak lebih daripada seorang pemabuk cacingan yg banyak berserakan dipinggir jalan.
"Apakah kamu yg bernama Jack Pierrot?"
"Ya. Dan aku juga yg membunuh Heth Ledger."
Beberapa jam berikutnya di ruang introgasi, aku menanyai keparat ini.
"Kenapa kamu membunuh Ledger?"
"Tentu saja. Aku mengidolakan Joker dari semasa aku kecil sampai sekarang. Aku tahu semuanya tentang dia. Walaupun dia penjahat, tapi kurasa penjahat adalah manusia paling jujur di dunia. Dia adalah penjahat terbaik yg pernah ada. Dan ketika tokoh idolamu di nodai dengan actor homo seperti Ledger, apakah kamu diam saja?"
Homo? Mungkin yg dia maksub adalah karakter yg dimainkan Ledger di film sebelumnya, "Broke Back Mountain."
"Jesust, Jack! Itu kan cuma film?!"
"Film? Tidak bung. Image yg kau dapat dari memerankan sebuah film akan kau bawa seumur hidupmu. Peran jelek yg kau bawa di film sebelumnya akan merusak karakter yg kau mainkan di film selanjutnya.
"Lalu bagaimana kau membunuhnya?"
"Selama syuting film aku mendekatinya. Mencoba memahaminya sebagai seorang teman yg dapat dipercaya. Berusaha memanas-manasinya tentang mantan istrinya yg sekarang sedang dekat dengan pria lain, tentang kegagalan seorang pria jika tidak mampu menjaga keutuhan keluarganya seberapapun suksesnya karir orang itu. Aku memanipulasinya dengan berbagai cara agar dia begitu tertekan sampai ingin mengakhiri hidupnya. Aku juga yg mensuplai obat2 depresi & insomnia itu & menyarankan meminumnya semua sekaligus melebihi takaran.
Aku menatap matanya. Seperti lubang hitam yg amat dalam. Aku sering berhadapan dengan pembual, dan aku tahu orang ini tidak termasuk diantaranya. Gestur tubuhnya sangat tenang, perkataanya terkendali seolah2 dia yakin sekali dengan yg diucapkanya. Ternyata aku berhadapan dengan seorang diehard fans tokoh The Joker yg tidak rela tokoh pujaanya di rusak oleh actor yg tidak disukainya.
"Lalu mengapa kamu meninggalkan kartu Joker itu di dekat mayat Ledger yg justru menuntunku kepadamu bahwa kau berhubungan dengan kasus ini?"
"Aku sudah menunggumu, sir. Aku menunggu untuk ditemukan. Seperti The Joker yg selalu meninggalkan kartunya disetiap kejahatan yg dia lakukan sebagai pertanda bahwa dialah yg melakukan. Karena apalah artinya kejahatan jika tidak ada yg mengetahui siapa yg melakukanya? HAHAHAHAHAAA……!!"
Sejenak aku miris mendengarnya. Bukan karena tawanya yg seperti serigala. Tapi pemikiranya yg sempit seperti itu. Walau harus kuakui keberanianya untuk mengakui kejahatanya. Tidak banyak penjahat yg dengan berani langsung mengakui dan menyerahkan dirinya seperti ini. Dia akan mendekam di penjara dalam waktu yg lama dgn tuduhan penghasutan yg berakibat kematian. Atau jika terbukti dia gila, akan selalu tersedia "Arkham Asylum" untuknya. Dari sini aku menemukan persamaan antara penjahat & actor film, "Bagaimana pada dasarnya mereka itu ingin diketahui & diakui eksistensinya atas apa yg mereka kerjakan. Betapa hausnya mereka akan popularitas."
Malam ini Manhattan lebih sunyi dari sebelumnya.